Kamis, 24 November 2011

dari tempat ini....

aaahhh...selamat sore INDONESIA!!!!!
saya tiba-tiba dapet ide untuk mosting ini ke blog..
ini murni bukan bikinan saya..tapi ini karya dari unni saya..MAHARANI
ini bisa dibilang kaya' notes kesan-kesan kita selama sekolah di SMK FARMASI..NOESPOET.
Fun-Fun Pharmacy gitu lah ya..
ini Unni persembahkan buat semua temen-temen lulusan 2011 SMK FARMASI NUSAPUTERA..
cekidot.

Dari sini.
Dari sebuah sekolah yang menanamkan dengan teguh tentang kejujuran, kebaikan, keadilan, dan semua hal yang terbaik untus semua siswanya. Sekolah yang selalu tidak rela semua siswanya mendapat hari libur yang panjang, sekolah yang terasa tidak memiliki kebebasan untuk siswanya. Sekolah yang selalu mengadakan ulangan ulangan ulangan bagaimana pun caranya.

Disekolah ini juga siswanya didik dengan seperti tidak mempunyai rasa empati, setiap guru selalu memberi tugas, menjanjikan ulangan, seakan tidak peduli tentang kepentingan lain dari siswanya , atau dirinya sendiri.  Meski kami tau untuk apa semua ini, tapi yang dapat kami lakukan hanya mengeluh. Selalu mengeluh.

Tahu pertama dimulai dari rasa tidak suka. Dan berakhir dengan rasa... entahlah. Mungkin masih sedikit rasa tidak sukanya. Dimulai tanggal 17 juli 2008  PPS  atau OSPEK keras dari senior yang nota bene adalah para nggota OSIS. Senior memerintah junior, junior melakukan perintah senior. Tidak jelas apa salah junior, sang senior menghukum, memberi tugas, tagihan dan banyak kegiatan yang mengatasnamakan masa orientasi sekolah. Dulu junior mengeluh : apa hubungannya bawa kaleng rombeng yang ada batunya, digantung di pinggang biar kalo jalan bunyi klontang-klontang dengan pelajaran yang akan kita pelajari di SMF besok? Tapi pasti endingnya, mereka bawa juga sepasang kaleng rombeng (bagaimanapun caranya) untuk memenuhi tugas dari senior itu. Sampai di sekolah, telat 1 menit, harus lari 3 putaran dan membersihkan halaman sekolah pagi-pagi. Sedangkan yang tidak telat, apa bedanya? Mereka tetep kebagian teropos. Cuman lebih enteng daripada yang dihukum, yaitu menerima sarapan berupa hujan lokal dari senior di pagi buta. Menjengkelkan, mengesalkan. Paling itu yang paling berbekas.

Setelah itu siswa resmi lepas dari masa orientasi. Mereka menjadi the real high school pharmacy students. Belajar , belajar, belajar. Begitu lepas mos, itu yang harus dihadapi. Pelajaran dengan bahasa asing, buku asing, cara asing, lingkungan asing, teman-teman yang dari berbagai daerah, dengan bermacam hal yang perlu di campurkan agar kelasnya tidak menjadi ring pertandingan adu jotos di kelas. Ulangan-ulangan-ulangan. Mulai terasa beratnya. Tugas-tugas-tugas mulai terasa capeknya membuat tugas, sementara harus mengimbangi belajar untuk ulangan. Mid semester, semesteran... seperti hari biasa. Ulangan biasa yang hampir tidak terasa beratnya. Kadang kepala puyeng. Tapi kata kakak kelas itu nomal. Lalu beberapa dari siswa itu mulai mencari alternatif bagaimana mengantisipasi ulangan yang rutin seperti makanan sehari-hari. Dari hal yang paling simple. Yaitu belajar, sampai hal yang ekstrem seperti membuat contekan kecil yang berisi materi ulangan yang sebelumnya didapat dari kelas lain yang sudah ulangan duluan.

Tapi toh mereka berhasil naik ke kelas selanjutnya, kelas 2 atau kelas 11. Kasus-kasus-kasus. Begitu banyak kasus yang terjadi. Dai yang sepele sampai fatal. Toh mereka tetap jalani hari seperti biasa. Tetap dengan ulangan tugas, tagihan, dan berbagai macam hal yang membuat stress orang yang tidak terbiasa. Tapi mereka kan sudah merasakan setahun lalu. Pasti tahun ini menjadi lebih mudah. Sebagian berpikir begitu, sebagian lagi tidak. Lalu kenapa mereka masih mengeluh?

Manusia mana yang tidak mengeluh. Sialnya keluhan mereka selalu ditanggapi dingin  oleh para guru. Mereka tetap memberi tugas, dan ulangan. Intinya, sekolah farmasi 90% diisi oleh ulangan dan tugas.  Guru yang mereka jumpai di kelas 2 semua guru super, super, karena mereka berhasil tahan bertahun tahun mendidik kelas 2 yang mulai brutal. Super karena mereka berhasil membuat kelas 2 mayoritas naik ke kelas 3.

Bali, anak kelas 2 yang mana yang tidak menantikan pergi ke bali? Persiapan matang, pakaian siap, peralatan oke. Tidak lupa nyiapin segala hal biar jadinya perfect. Ada yang h-1 keberangkatan malemnya minta temannya untuk dateng buat nyiapin apa aja yang mau dibawanya. Ada yang nggak bisa tidur. Oh ternyata banyak juga yang nggak bisa tidur tenang. Cuman gara-gara mau ke Bali.

Di bali benar-benar mereka buat enjoy, party, foto, celebrate, sesukanya. Di perjalanan, di dalam bis, semua bis menyalakan satu-satunya hiburan disana. Elektronik yang menyajikan audio visual. Dan jadilah semua bis bisa berjalan dengan goncangan yang dibuat oleh semua siswa yang ada disana. Mayoritas pada joget, karaoke dan nari. Benar-benar sebuah pengalaman yang susah dilupain.

Setelah dari bali, kejar tayang soal laporan karya tulis sebagai syarat ikut semesteran. Kenapa sih pihak guru masih menagih tugas dari secuil kesenangan kami yang hanya berlangsung sangat singkat sekali. Anehnya kelas 2 tetap menyelesaikan tugas karyatulisnya bagaimanapun caranya.akhirnya mereka naik juga. Naik dengan berbagai macam hasil ujian.

Setelah libur yang hanya berkisar 3 minggu kurang, mereka memasuki gerbang kelas 3. Awal mula masuk, kelas tiga ini diminta berkali-kali untuk memperbaiki kualitas diri, dan kemampuan yang dimiliki. Dan tentunya, mereka punya tanggung jawab besar untuk memperbaiki reputasi sekolah yang sedikit ambruk. Dari awal masuk, mereka sudah diminta untuk memetakan nasib mereka di kelas 3 ini. Semesteran yang maju 3 bulan dari seharusnya, lalu PKL selama 2 bulan, try out ujian nasional, ujian nasional, lalu ujian praktek, ujian kompetensi keahlian, wisuda, sumpah dan banyak lagi. Dan itu mereka, para kelas 3 yang merasa perlu membangun sebuah kenangan indah untuk yang terakhir di sekolah, mereka membuat sebuah acara akhir tahun dan sepakat untuk membuat buku tahunan yang dapat menjadi kenang-kenangan bagi mereka para almunus. Memang, sebuah kelulusan nggak ada rasanya kalau nggak ada prom nite dan katalog.
Tetap dengan seabrek ulangan, tugas yang banyak, libur yang limit, mereka para kelas 3 menjalani aktivitas bagai pekerja pabrik. Berangkat sekolah, belajar materi, diterangkan guru, mengerjakan latihan soal, ulangan , diberi peer. Pulang, mereka mencari bahan peer, mengerjakan peer. Belajar untuk ulangan lain, bangun pagi, mereka siap kesekolah dengan rutinitas yang sama. Sangat fokus, sangat monoton. Beberapa guru membuat tahun terakhir sekolah menjadi semakin monoton karena cara mengajarnya. Dikejar meteri, atau mengejar materi, semuanya sudah tidak lagi penting. Ulangan jujur atau tidak jujur. Tidak ada bedanya. Mereka tetap menjalani tahun terakhir mereka di sekolah ini.

sekarang masing masing berkarya. setelah lulus bisa kemana saja. bisa sampai tidak terlacak. tapi Anyway, life goes on. Sebenernya setelah kelulusan inilah awal mula lembaran itu.

semoga coretan pendek ini bisa mengenang kita yang telah keluar dari tempat itu. mungkin ini adalah salah satu kenangan kita yang (kadang kadang) ngangenin.
coretan ya coretan, anggap sebagai coretan. hahahaha...
please comment, or like.

WebRepPredikat secara keseluruhan
WebRepPredikat secara keseluruhan
WebRepPredikat secara keseluruhan 

Tidak ada komentar: